BOjONEGORO – Dalam penyampaian pandangan umum Fraksi Partai Golkar pada rapat paripurna pada Rabu (26/8/2026)
Annafiy Aisya Sahila, anggota DPRD dari fraksi Partai Golkar menyampaikan pada pandangan umum, pada prinsipnya fraksi partai Golkar mengapresiasi
langkah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam
melakukan penyesuaian APBD Tahun Anggaran 2026.
Namun demikian, perubahan anggaran harus tetap
berorientasi pada efektivitas, efisiensi, transparansi,
akuntabilitas, serta pencapaian target pembangunan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Disamping itu, Fraksi Partai Golkar mencermati bahwa target Pendapatan
Daerah Tahun Anggaran 2026 semula sebesar Rp4,566
triliun, kemudian dalam Perubahan APBD menjadi
Rp4,389 triliun, atau mengalami penurunan sebesar
Rp176,685 miliar atau 3,87 persen.
Pada sisi lain, PAD
justru mengalami peningkatan dari Rp1,086 triliun
menjadi Rp1,106 triliun, atau naik sebesar 1,81 persen.
Fraksi Partai Golkar menilai peningkatan PAD tersebut
patut diapresiasi.Namun, peningkatan sebesar 1,81 persen belum cukup untuk menjawab persoalan fundamental mengenai kemandirian fiskal daerah.
Nota Keuangan sendiri mengakui bahwa ketergantungan
Kabupaten Bojonegoro terhadap transfer Pemerintah Pusat
masih tinggi, yakni 76,21 persen dari total pendapatan.
Sedangkan optimalisasi pajak dan retribusi daerah masih
menghadapi persoalan basis data, pemanfaatan teknologi
informasi, dan potensi kehilangan penerimaan
.
Fraksi Partai Golkar juga memberikan perhatian terhadap
meningkatnya target hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan sebesar 27,62 persen. Kenaikan ini harus
dibarengi dengan peningkatan kinerja BUMD secara nyata,
profesional, sehat, dan terukur.
“Jangan sampai penyertaan
modal daerah tidak berbanding lurus dengan peningkatan
kontribusi BUMD terhadap PAD,” tegasnya.
Fraksi Partai Golkar mencermati bahwa sampai
dengan Juni 2026, realisasi Belanja Daerah baru mencapai
25,51 persen, dari anggaran sebesar Rp6,499 triliun. Yang
lebih menjadi perhatian adalah realisasi Belanja Modal
yang baru mencapai 4,44 persen.
Kondisi ini perlu
menjadi perhatian serius.
Belanja modal merupakan salah satu instrumen utama
Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur dan
meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Bahkan pada
Perubahan APBD, Belanja Modal justru dinaikkan sangat
signifikan, dari Rp952,938 miliar menjadi Rp1,408
triliun, atau meningkat sebesar 47,77 persen.
Fraksi Partai Golkar memandang peningkatan belanja
modal tersebut dapat menjadi kebijakan yang positif
apabila benar-benar diarahkan kepada kebutuhan
masyarakat dan mampu dilaksanakan secara tepat waktu,
tepat mutu, serta tepat sasaran.
“Namun kami mengingatkan bahwa
penambahan
anggaran tidak otomatis berarti peningkatan kualitas
pembangunan,” tambahnya.
Pemerintah Daerah juga perlu memastikan
pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi
pada pembangunan fisik baru, tetapi juga pada
pemeliharaan dan peningkatan kualitas infrastruktur
yang sudah ada.
Fraksi Partai Golkar memberikan apresiasi terhadap
adanya pengurangan Belanja Pegawai sebesar 0,77 persen.
Namun di sisi lain, Belanja Barang dan Jasa meningkat 4,10
persen, sementara Belanja Hibah dan Bansos juga mengalami
peningkatan cukup signifikan.
Kami meminta agar setiap kenaikan anggaran memiliki
alasan yang jelas, basis kebutuhan yang kuat, serta indikator
hasil yang dapat diukur. Prinsip yang harus dikedepankan
adalah:
“Anggaran mengikuti prioritas, bukan prioritas mengikuti
anggaran. Artinya, setiap rupiah yang dialokasikan harus terlebih dahulu iuji manfaatnya bagi masyarakat,- tegasnya.
Selain itu Fraksi Partai Golkar juga mendorong Pemerintah Daerah
untuk terus memperkuat digitalisasi penganggaran, pengadaan,
perpajakan, pelayanan publik, serta monitoring pelaksanaan
program untuk menekan pemborosan dan meningkatkan
transparansi.
Salah satu perhatian penting Fraksi Partai Golkar
adalah penggunaan SiLPA sebagai sumber penerimaan
pembiayaan.
Dalam Rancangan Perubahan APBD 2026, penerimaan
pembiayaan meningkat dari Rp1,945 triliun menjadi
Rp2,073 triliun, atau bertambah sekitar Rp127,589 miliar.
Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa penerimaan
tersebut bersumber dari SiLPA tahun sebelumnya.
Nota Keuangan juga secara eksplisit menyebut bahwa
SiLPA yang tinggi antara lain terjadi karena pelampauan
pendapatan dan penghematan belanja, serta keterbatasan
waktu pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan tidak
maksimal.
“Kami berharap pembahasan Perubahan APBD Tahun
Anggaran 2026 dapat menghasilkan kebijakan anggaran yang
sehat, realistis, produktif, transparan dan akuntabel, serta
benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Pada akhirnya, Fraksi Partai Golkar menegaskan komitmennya
untuk menjadi mitra Pemerintah Daerah yang kritis,
konstruktif dan solutif. Mendukung kebijakan yang baik,
mengoreksi kebijakan yang perlu diperbaiki, serta memastikan
bahwa APBD Kabupaten Bojonegoro benar-benar digunakan
untuk meningkatkan k Fraksi Partai Golkar Apresiasi Langkah Pemkab Bojonegoro Dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026.
BOjONEGORO – Dalam penyampaian pandangan umum Fraksi Partai Golkar pada rapat paripurna pada Rabu (26/8/2026)
Annafiy Aisya Sahila, anggota DPRD dari fraksi Partai Golkar menyampaikan pada pandangan umum, pada prinsipnya fraksi partai Golkar mengapresiasi
langkah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam
melakukan penyesuaian APBD Tahun Anggaran 2026.
Namun demikian, perubahan anggaran harus tetap
berorientasi pada efektivitas, efisiensi, transparansi,
akuntabilitas, serta pencapaian target pembangunan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Disamping itu, Fraksi Partai Golkar mencermati bahwa target Pendapatan
Daerah Tahun Anggaran 2026 semula sebesar Rp4,566
triliun, kemudian dalam Perubahan APBD menjadi
Rp4,389 triliun, atau mengalami penurunan sebesar
Rp176,685 miliar atau 3,87 persen.
Pada sisi lain, PAD
justru mengalami peningkatan dari Rp1,086 triliun
menjadi Rp1,106 triliun, atau naik sebesar 1,81 persen.
Fraksi Partai Golkar menilai peningkatan PAD tersebut
patut diapresiasi.
Namun, peningkatan sebesar 1,81
persen belum cukup untuk menjawab persoalan
fundamental mengenai kemandirian fiskal daerah.
Nota Keuangan sendiri mengakui bahwa ketergantungan
Kabupaten Bojonegoro terhadap transfer Pemerintah Pusat
masih tinggi, yakni 76,21 persen dari total pendapatan.
Sedangkan optimalisasi pajak dan retribusi daerah masih
menghadapi persoalan basis data, pemanfaatan teknologi
informasi, dan potensi kehilangan penerimaan
.
Fraksi Partai Golkar juga memberikan perhatian terhadap
meningkatnya target hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan sebesar 27,62 persen. Kenaikan ini harus
dibarengi dengan peningkatan kinerja BUMD secara nyata,
profesional, sehat, dan terukur.
“Jangan sampai penyertaan
modal daerah tidak berbanding lurus dengan peningkatan
kontribusi BUMD terhadap PAD,” tegasnya.
Fraksi Partai Golkar mencermati bahwa sampai
dengan Juni 2026, realisasi Belanja Daerah baru mencapai
25,51 persen, dari anggaran sebesar Rp6,499 triliun. Yang
lebih menjadi perhatian adalah realisasi Belanja Modal
yang baru mencapai 4,44 persen.
Kondisi ini perlu
menjadi perhatian serius.
Belanja modal merupakan salah satu instrumen utama
Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur dan
meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Bahkan pada
Perubahan APBD, Belanja Modal justru dinaikkan sangat
signifikan, dari Rp952,938 miliar menjadi Rp1,408
triliun, atau meningkat sebesar 47,77 persen.
Fraksi Partai Golkar memandang peningkatan belanja
modal tersebut dapat menjadi kebijakan yang positif
apabila benar-benar diarahkan kepada kebutuhan
masyarakat dan mampu dilaksanakan secara tepat waktu,
tepat mutu, serta tepat sasaran.
“Namun kami mengingatkan bahwa
penambahan
anggaran tidak otomatis berarti peningkatan kualitas
pembangunan,” tambahnya.
Pemerintah Daerah juga perlu memastikan
pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi
pada pembangunan fisik baru, tetapi juga pada
pemeliharaan dan peningkatan kualitas infrastruktur
yang sudah ada.
Fraksi Partai Golkar memberikan apresiasi terhadap
adanya pengurangan Belanja Pegawai sebesar 0,77 persen.
Namun di sisi lain, Belanja Barang dan Jasa meningkat 4,10
persen, sementara Belanja Hibah dan Bansos juga mengalami
peningkatan cukup signifikan.
Kami meminta agar setiap kenaikan anggaran memiliki
alasan yang jelas, basis kebutuhan yang kuat, serta indikator
hasil yang dapat diukur. Prinsip yang harus dikedepankan
adalah:
“Anggaran mengikuti prioritas, bukan prioritas mengikuti
anggaran. Artinya, setiap rupiah yang dialokasikan harus terlebih dahulu iuji manfaatnya bagi masyarakat,- tegasnya.
Selain itu Fraksi Partai Golkar juga mendorong Pemerintah Daerah
untuk terus memperkuat digitalisasi penganggaran, pengadaan,
perpajakan, pelayanan publik, serta monitoring pelaksanaan
program untuk menekan pemborosan dan meningkatkan
transparansi.
Salah satu perhatian penting Fraksi Partai Golkar
adalah penggunaan SiLPA sebagai sumber penerimaan
pembiayaan.
Dalam Rancangan Perubahan APBD 2026, penerimaan
pembiayaan meningkat dari Rp1,945 triliun menjadi
Rp2,073 triliun, atau bertambah sekitar Rp127,589 miliar.
Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa penerimaan
tersebut bersumber dari SiLPA tahun sebelumnya.
Nota Keuangan juga secara eksplisit menyebut bahwa
SiLPA yang tinggi antara lain terjadi karena pelampauan
pendapatan dan penghematan belanja, serta keterbatasan
waktu pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan tidak
maksimal.
“Kami berharap pembahasan Perubahan APBD Tahun
Anggaran 2026 dapat menghasilkan kebijakan anggaran yang
sehat, realistis, produktif, transparan dan akuntabel, serta
benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Pada akhirnya, Fraksi Partai Golkar menegaskan komitmennya
untuk menjadi mitra Pemerintah Daerah yang kritis,
konstruktif dan solutif. Mendukung kebijakan yang baik,
mengoreksi kebijakan yang perlu diperbaiki, serta memastikan
bahwa APBD Kabupaten Bojonegoro benar-benar digunakan
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
***(Nir/red).














